Belajar dari Sir Alex Ferguson

Sir Alexander Chapman Ferguson, demikian nama lengkapnya. Dia adalah pelatih tersukses Manchester United, tim sepakbola kesayangan saya. Tahu berapa total gelar yang dia persembahkan untuk klub yang ditanganinya? 34 gelar selama hampir 20 tahun!!! Sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat ketatnya persaingan sepakbola sekarang. Tak cukup sampai segitu aja, pada tahun 2007 surat kabar Times Inggris juga menobatkan dia menjadi salah satu dari 50 pelatih terhebat sepanjang masa. Bahkan kerajaan Inggris juga memberikan gelar kebangsawanan nan prestisius di depan namanya, “SIR”.

Sir Alex Ferguson

No pain no gain, demikian juga dengan kisah sukses pelatih yang akrab disapa Fergie ini. Selama lebih dari 3 tahun pertama dia menangani MU, tak ada satupun trofi yang mampir di lemari trofi MU. Bahkan fans MU yang sudah sangat muak dengannya sampai memajang spanduk bertuliskan “Three years of excuses and it’s still crap. Ta ra Fergie”. Coba anda bayangkan, dicaci maki oleh pendukung sendiri.

Orang sukses tak pernah menyerah. Setelah dicaci maki habis-habisan, pada akhir musim 1989-1990 atau menjelang tahun keempatnya, trofi pertama berhasil ia persembahkan. Sebuah Piala FA hasil kemenangan melawan Crystal Palace 1-0. Tak cukup sampai disitu, dia juga berhasil mempersembahkan trofi Charity Shield (sekarang Community Shield) hasil juara bersama melawan Liverpool. Pada musim berikutnya, trofi Piala Winners dan Piala Super Eropa berhasil ia raih. Hasil itu rupanya belum cukup memuaskan suporter MU, mereka masih sangat mendambakan trofi EPL atau liga utama Inggris yang sejak tahun 1967 tak pernah mereka raih.

Pada musim 1992-1993, trofi paling prestisius di Inggris Raya yang selama ini mereka dambakan akhirnya mereka dapatkan. Sejak itu keraguan fans kepadanya hilang sudah, dan tahun demi tahun dilalui Fergie bersama MU dengan gilang gemilang. Bahkan pada musim 1998-1999 ia sukses menghadirkan sejarah bagi MU, meraih treble winners alias 3 gelar dalam semusim. Berkat pencapaiannya itulah nama “Sir” dengan gagah melekat pada namanya.

Fergie juga terkenal sangat disiplin dalam memperlakukan para anak buahnya. Di dalam skuad MU, tidak ada yang namanya “anak emas”, semuanya diperlakukan sama. Bahkan David Becham, sang megabintang itu, pernah menerima apa yang disebut “Hairdryer Treatment”, yaitu semacam hukuman bagi pemain yang bermain buruk di babak pertama pertandingan. Beckham terkena lemparan sepatu Fergie (bayangkan kalau kamu dilempar sepatu, mau???). Konon Ruud van Nistelrooy alias Ruudtje pun pernah terkena terapi kejut ala Fergie itu.

Kesuksesan Fergie adalah kisah tentang kerja keras, kesabaran, kekuatan mental untuk tidak pernah menyerah dan kedisiplinan. Sama seperti kisah-kisah manusia sukses lainnya. Seperti saya sebut di atas, no pain no gain.

Jalan menuju sukses memang tak pernah mudah, selalu ada jalan terjal yang menghadang kita, tergantung bagaimana kita menghadapinya. Mumpung masih dalam suasana memperingati Hari Kebangkitan Nasional, mari kita bangkit!! Serbuuuu *eh*